Pemenang Sejati
30 May 2026 | Oleh: Rastono Sumardi
Di pasar dunia yang riuh menjajakan fatamorgana,
manusia menakar menang dengan emas dan puja;
padahal tepuk tangan hanyalah debu di sayap waktu,
sedang hati yang bening adalah lampu
yang dinyalakan Tuhan di relung kalbu.
Musuh terdekat bukan wajah di seberang jalan,
melainkan nafsu—kuda liar di padang keinginan;
ia mengajak lidah pada dusta dan mata pada silau dunia,
namun pemenang sejati menggenggam tali sabar,
menjaga jiwanya tetap suci di bawah cahaya takwa.
Dunia hanyalah persinggahan dengan pesta yang fana,
gemerlapnya bagai embun di ujung dedaunan pagi;
tetapi ruh yang bersujud dan tangan yang memberi
menemukan bahagia bukan pada apa yang dimiliki,
melainkan pada ridha Allah yang diam-diam bersemi.
Ujian bukan murka yang hendak mematahkan langkah,
melainkan madrasah langit bagi jiwa yang lelah;
air mata menjadi wudu bagi hati yang pasrah,
dan sabar menempa insan seperti besi di bara—
hingga tawakal tumbuh sebagai sayap menuju surga.
Maka pemenang sejati sering tampak asing di bumi:
jujur saat curang menjadi pakaian zaman,
memaafkan ketika dendam dipelihara hati;
tetap sujud kala kesombongan diagungkan manusia—
sebab kemenangan bukan mahkota dunia,
melainkan pulang kepada-Nya
dengan jiwa yang diridhai cahaya.
dengarkan pembacaan puisinya :