Ikhlas di Ujung Doa
20 May 2026 | Oleh: Ridayati
Ada nama
yang dulu begitu akrab dipanggil senja,
mengisi rumah dengan tawa
dan menenangkan luka hanya lewat suara.
Kini,
namanya tinggal gema di dalam dada,
tak lagi duduk di samping kita,
tak lagi menjawab saat rindu memanggilnya.
Waktu mengajarkan satu hal yang paling sulit:
bahwa cinta tak selalu tentang memiliki,
kadang tentang merelakan
meski hati masih ingin menggenggam.
Ada perpisahan
yang tak bisa dikejar langkah,
karena jaraknya bukan lagi kota,
melainkan berbeda alam dan waktu.
Kita hanya manusia,
yang belajar tegar di antara kehilangan,
belajar tersenyum sambil menyembunyikan hujan
yang diam-diam jatuh di pelupuk malam.
Namun bukankah cinta sejati
tak pernah benar-benar pergi?
Ia hidup dalam doa,
dalam kenangan yang tetap abadi.
Maka perlahan aku belajar ikhlas,
meski rindu masih sering mengetuk,
aku percaya…
setiap pertemuan telah ditulis dengan indah,
dan setiap perpisahan
adalah jalan pulang menuju keabadian.
Jika suatu hari air mata ini jatuh lagi,
biarlah menjadi doa yang mengalir lembut:
“Tenanglah di sana…
aku akan tetap mencintaimu,
meski kini kita hanya bisa saling menyapa
lewat langit dan doa.”
Dengarkan Pembacaan Puisinya, Klik di bawah ini: