Suara yang Hampir Hilang

20 May 2026 | Oleh: Andi Dinda Khanaya - Siswa SMP Negeri 3 Luwuk

Suara yang Hampir Hilang

“Warna yang ini sepertinya lebih cocok,” kata Pak Bon sambil mengangkat kain bermotif emas.

Mak berjalan di lorong balai desa bersama Pak Bon sambil membawa beberapa baju adat.

Suasana di dalam balai desa sangat ramai. Warga bergotong royong mengecat panggung, memasang lampu, dan menyapu halaman. Mak dan Pak Bon melewati beberapa ibu-ibu yang sedang menjahit hiasan untuk festival.

“Ayo, ayo, semangat! Kita ramaikan festival kali ini agar lebih meriah!” seru Pak Bon.

Mak tertawa kecil mengingat masa kecilnya.

Mira, gadis berusia sebelas tahun, berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan semuanya. Sudah lama balai desa itu tidak seramai sekarang.

“Mir, tolong bantu Mak angkat kotak ini,” panggil Mak.

“Iya, Mak.”

Mira mengampiri Mak dan mengangkat kotak besar itu pelan-pelan. Ia memandangi warga yang sibuk bekerja sejak tadi.

“Memangnya festival ini sepenting itu, ya?” gumamnya pelan.

“Sudah, jangan melamun,” tegur Mak. “Masih banyak yang perlu dibereskan.”

Waktu Mira kecil, ia masih sempat melihat festival desa sekali. Lapangan saat itu penuh dengan lampu warna-warni dan suara gendang yang mengiringi gerakan para penari.

Sayangnya, festival berhenti akibat panggung yang pernah roboh saat festival berlangsung.

Mak memperhatikan Pak Bon yang sibuk memberi arahan kepada warga.

“Pak Bon memang keras kepala soal festival,” bisiknya pelan.

Rupanya, Pak Bon mendengar ucapan itu dan tertawa.

“Budaya itu jangan sampai kalah sama waktu,” ujarnya.

Mira tersenyum mendengar ucapan itu.

Sore harinya, Mira membantu Abit membersihkan gudang belakang balai desa. Debu beterbangan saat mereka membuka kotak-kotak lama.

“Hacih!” Mira langsung bersin sambil mengibas-ngibaskan udara di depannya.

Abit tertawa. “Gudang ini seperti tidak pernah dibersihkan.”

Tiba-tiba, pandangan mereka tertuju pada sebuah gendang besar di sudut ruangan. Ukiran emasnya masih terlihat meski tertutup debu tipis.

“Wah…” gumam Abit pelan. “Gendang ini masih bagus.”

Mira mengangguk kecil. “Seperti masih baru.”

Mereka saling berpandangan beberapa detik.

Mira hendak membuka kainnya, tetapi seseorang langsung menahan tangannya.

“Jangan sentuh itu!”

Mira dan Abit langsung menoleh.

Banyu berdiri di belakang mereka dengan wajah tegang. Tatapannya tertuju pada gendang besar itu, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin diingatnya lagi.

“Itu…” suara Banyu terdengar pelan, “gendang terakhir yang dimainkan ayahku sebelum tangannya cedera parah.”

Tangannya mengusap pelan ukiran emas di sisi gendang itu.

“Sejak malam itu, ayahku tidak pernah memainkannya lagi.”

Suasana gudang mendadak sunyi.

Abit menunduk pelan.

Mira perlahan menurunkan tangannya. Ia pernah mendengar cerita tentang ayah Banyu dari warga desa. Dulu, ayah Banyu adalah pemain gendang terbaik di desa mereka. Namun, saat festival terakhir berlangsung, hujan besar datang tiba-tiba. Angin kencang membuat sebagian panggung roboh dan tangan ayah Banyu tertimpa kayu.

Sejak saat itu, ayah Banyu tidak pernah bermain gendang lagi.

Festival desa juga berhenti diadakan.

“Festival itu cuma membawa kenangan buruk,” ujar Banyu sebelum melangkah keluar gudang.

Mira memandangi punggung Banyu yang perlahan menghilang di balik pintu gudang.

Malam harinya, Mira duduk bersama Mak di dapur sambil membantu melipat kain hias.

“Kasihan Banyu,” gumam Mira.

“Ibunya Banyu, Tante Ayu, juga belum benar-benar melupakan kejadian itu.”

Mira terdiam, menyimak perkataan Mak.

“Kejadian waktu panggung roboh itu membuat semuanya berubah,” lanjut Mak pelan.

Paginya, Mira melihat Tante Ayu duduk di depan rumahnya sambil membersihkan beberapa kain lama. Di sampingnya terdapat tas berisi perlengkapan gendang milik ayah Banyu yang sudah lama tidak dipakai.

Tante Ayu tersenyum kecil saat melihat Mira lewat, namun matanya tampak lelah.

Untuk pertama kalinya, Mira mulai mengerti mengapa festival itu sempat menghilang begitu lama.

Hari demi hari, balai desa semakin ramai dengan hiasan festival. Anak-anak mulai berlatih tari tradisional, dan suara musik kembali terdengar setiap sore.

Namun, tiga hari sebelum festival dimulai, hujan deras kembali turun.

Angin malam membuat beberapa lampion jatuh ke tanah dan beberapa bambu hampir patah.

Warga langsung panik.

“Festivalnya dibatalkan saja!”

“Nanti kejadian dulu terulang lagi!”

Suasana balai desa mendadak dipenuhi ketakutan.

Mira berdiri memandangi panggung dengan perasaan tidak tenang.

Saat Mira duduk sendirian di depan panggung, suara motor terdengar dari arah jalan desa.

Ternyata, itu Banyu. Ia membawa beberapa papan kayu di belakang motornya.

“Aku bantu memperbaikinya,” katanya singkat.

Mira menatapnya kaget.

Banyu menghela napas pelan.

“Sebenarnya, aku masih takut mengingat kejadian dulu,” katanya. “Tapi kalau festival ini berhenti, nanti tidak ada lagi yang mengingat ayahku pernah memainkan gendang itu.”

Tak lama kemudian, Abit datang membawa palu. Beberapa warga lain ikut berdatangan membantu memperbaiki panggung.

Malam itu mereka bekerja sampai larut. Hampir tidak ada yang tidur.

Tuk… tuk… suara palu terdengar bergantian dengan tawa kecil para warga. Beberapa ibu-ibu datang membawakan teh hangat dan pisang goreng untuk mereka yang masih sibuk memperbaiki panggung.

Menjelang tengah malam, panggung akhirnya selesai diperbaiki.

Keesokan paginya, Mira yang baru selesai membantu Mak dikejutkan oleh suara ketukan di depan rumah.

Tok… tok…

“Assalamualaikum,” terdengar suara dari depan rumah.

“Pagi-pagi sekali sudah datang,” gumam Mak heran sebelum membuka pintu.

Ternyata, Pak Bon berdiri di depan rumah sambil membawa kantong yang berisi baju adat.

“Waalaikumsalam. Ada apa, Pak Bon?”

“Mira ada?” tanyanya.

Mira yang baru keluar rumah langsung menatap bingung.

“Ini untukmu,” kata Pak Bon sambil menyerahkan kantong itu.

Mira membuka isi kantong tersebut. Matanya langsung membulat melihat baju adat merah dengan kain bermotif emas di dalamnya.

“Aku yang pakai ini?”

Pak Bon mengangguk kecil.

“Jangan sampai gugup waktu pembukaan nanti.”

Mira langsung panik.

“Pak, aku belum pernah tampil di depan banyak orang…”

Pak Bon tertawa kecil.

“Tenang saja. Yang penting berani dulu.”

Hari festival akhirnya tiba.

Sejak sore, lapangan desa mulai dipenuhi warga. Lampu-lampu kecil dinyalakan di sepanjang jalan menuju balai desa. Suara anak-anak berlarian bercampur dengan musik tradisional yang mulai dimainkan dari atas panggung.

Mira berdiri di belakang panggung sambil menggenggam ujung kain bermotif emas di tangannya.

“Masih gugup?” tanya Abit.

Mira mengangguk cepat.

Abit malah tertawa kecil. “Mukamu dari tadi tegang sekali.”

“Aku takut salah jalan nanti.”

“Tenang saja,” sahut Abit. “Yang penting jangan jatuh.”

Mira langsung menatap kesal, membuat Abit semakin tertawa.

Dari kejauhan, Pak Bon memberi isyarat bahwa acara akan segera dimulai.

Mira menarik napas panjang sebelum naik ke atas panggung.

Tepuk tangan warga langsung terdengar memenuhi lapangan.

Di sisi panggung, Banyu duduk diam di depan gendang ayahnya.

Beberapa detik suasana menjadi sunyi.

Banyu menatap permukaan gendang itu cukup lama, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya.

“DUM!”

Suara gendang menggema ke seluruh lapangan desa.

Anak-anak berhenti berlari. Para warga langsung menoleh ke arah panggung.

Mira melihat ke arah Banyu dan tersenyum kecil.

Musik tradisional kembali dimainkan, diiringi tepuk tangan dan sorak gembira warga desa.

Tante Ayu terlihat mengusap matanya pelan sambil tersenyum bangga melihat Banyu.

Dan malam itu, di bawah cahaya lampu sederhana dan suara gendang yang kembali terdengar, Mira mengerti…

Budaya bukan hanya tentang tarian atau festival.

Tetapi tentang kenangan yang dijaga agar tidak ikut hilang.

—Tamat—

Ditulis oleh:

Andi Dinda Khanaya - Siswa SMP Negeri 3 Luwuk

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: