Rekonstruksi Historis Kerajaan Motindok-Bola-Lowa: Genealogi Kepemimpinan, Transisi Kekuasaan, dan Manifestasi Adat di Batui

18 May 2026 | Oleh: Rastono Sumardi

Rekonstruksi Historis Kerajaan Motindok-Bola-Lowa: Genealogi Kepemimpinan, Transisi Kekuasaan, dan Manifestasi Adat di Batui

Kawasan pantai timur Sulawesi Tengah, khususnya wilayah Batui, secara historis merupakan wilayah penting yang mempertemukan berbagai dinamika migrasi maritim, pembentukan aliansi adat, dan ekspansi kekuasaan kerajaan kepulauan. Salah satu entitas politik lokal yang meletakkan dasar bagi tatanan sosiopolitik di wilayah ini adalah Kerajaan Motindok-Bola-Lowa.1 Politas kuno ini menguasai wilayah subur di sekitar Batui, mengintegrasikan masyarakat pesisir dengan komunitas pedalaman melalui pembagian kekuasaan yang unik di antara tiga bersaudara, sebelum akhirnya tunduk di bawah suzerainitas Kerajaan Banggai.1 Memori kolektif dan struktur adat dari kerajaan ini tetap bertahan hingga era modern melalui pranata sosial dan ritual tahunan yang sangat sakral.3

Geografi Sejarah dan Batas Teritorial Batui

Secara geografis, wilayah kekuasaan Kerajaan Motindok-Bola-Lowa meliputi sebagian wilayah Batui saat ini.1 Berdasarkan rekonstruksi sejarah lokal, kerajaan ini terbagi atas tiga wilayah utama, yaitu Motindok, Bola (juga dikenal sebagai Boja atau Bolak), dan Lowa. Secara topografis, wilayah Motindok dan Bola terletak di sebelah selatan Sungai Batui ke arah Toili, sedangkan wilayah Lowa terletak di seberang sungai, yakni di sebelah utara Sungai Batui ke arah Luwuk.1

Pusat-pusat pemerintahan dari ketiga wilayah ini berada di tempat-tempat yang disucikan atau dikeramatkan (kusali atau tempat keramat) oleh masyarakat setempat, yaitu 4:

  1. Dosoan: Tempat keramat di wilayah Motindok yang terletak di tepi Sungai Motindok.1

  2. Bukit Lokon: Tempat keramat di wilayah Bola yang terletak di arah pedalaman di tepi Sungai Katudunan.1

  3. Kuop: Tempat keramat di wilayah Lowa yang berjarak sekitar 15 km dari Batui modern menuju ke arah Seseba, dekat aliran Sungai Batui.1 Di sekitar wilayah Kuop inilah dahulunya terletak bekas Kampung Manau, yang diyakini sebagai situs permukiman kuno Batui Tua (Batui tua).1

Keberadaan sungai-sungai di kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi dan irigasi pada masa lalu, melainkan juga sebagai batas kosmologis dan ekologis yang menyatukan wilayah pesisir dengan pedalaman. Hingga masa kini, nama Motindok tetap diabadikan oleh masyarakat setempat sebagai identitas berbagai yayasan sosial-keagamaan seperti Yayasan Momposa'angu Tanga Sungai Motindok serta lembaga-lembaga pendidikan di Kayowa.5

Asal-Usul Migrasi Ampana dan Entitas Linguistik Baha

Pembentukan awal Kerajaan Motindok-Bola-Lowa tidak lepas dari gelombang migrasi maritim yang berasal dari wilayah Ampana, sebuah wilayah pesisir yang terletak di bagian utara Semenanjung Timur Sulawesi, menghadap Teluk Tomini. Para perintis dan pendiri kerajaan ini merupakan kelompok migran dari Ampana yang memiliki karakteristik bahasa yang berbeda dari mayoritas penduduk asli Batui yang didominasi oleh penutur bahasa Saluan.1 Kelompok pendiri ini menggunakan bahasa Baha sebagai identitas linguistik mereka.1

Bahasa Baha (atau mbaha) merupakan salah satu bentuk penyimpangan atau variasi dari dialek bahasa Ampana.1 Perbedaan linguistik ini pada awalnya menciptakan batas sosial-budaya yang jelas antara elit pendatang yang berbahasa Baha dengan komunitas agraris pedalaman Batui. Namun, melalui interaksi sosial, perkawinan politik, dan adaptasi lingkungan, terjadi proses asimilasi yang dinamis. Seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran bahasa (language shift) di mana bahasa Saluan secara perlahan diadopsi sebagai bahasa pergaulan umum dan bahasa ritual adat, sementara memori historis mengenai bahasa Baha tetap dipelihara dan masih dituturkan secara terbatas oleh generasi Batui saat ini dengan pencampuran bahasa Saluan.1

Dinastika Kepemimpinan Tripartit Tiga Bersaudara

Ciri paling menonjol dari struktur pemerintahan awal Kerajaan Motindok-Bola-Lowa adalah penerapan model kepemimpinan tripartit yang dijalankan secara kolektif oleh tiga bersaudara yang memiliki hubungan darah sangat erat.1 Kepemimpinan bersama ini berada di tangan Raja Ali Asine, adik perempuannya Ratu Aminah (juga dikenal sebagai Sitti Aminah), dan adik laki-lakinya Raja Lohat.1 Model ini mencerminkan pembagian wewenang berdasarkan pembagian ruang geografis dan fungsi kepemimpinan yang harmonis antara aspek pesisir-maritim, hubungan diplomatik luar negeri, dan spiritualitas pedalaman.

Otoritas Teritorial Raja Lohat di Gunung Lowa

Raja Lohat memegang kendali atas wilayah pedalaman berbukit yang berpusat di sekitar Gunung Lowa.4 Entitas politik yang dipimpinnya dikenal dengan nama Dadanga Humo Lowa.4 Dalam bahasa lokal Batui, istilah lowa memiliki arti "laba-laba".4 Berdasarkan cerita rakyat, nama ini diberikan karena bentuk morfologi gunung tersebut yang menyerupai sarang laba-laba raksasa.4 Menurut keyakinan kosmologis setempat, ketika terjadi peristiwa air bah raksasa di masa lampau (sering dikaitkan dengan zaman Nuh), Gunung Lowa tidak sepenuhnya tenggelam dan menyisakan bentuk bulat seperti sarang laba-laba, sehingga disucikan sebagai situs keramat (kusali Bola).4 Melalui kepemimpinan Raja Lohat, dimensi spiritual dan penguasaan atas hasil-hutan pedalaman diintegrasikan ke dalam kedaulatan kerajaan terpadu Motindok-Bola-Lowa.

Peran Diplomatik Sitti Aminah dan Asal-Usul Burung Maleo

Sitti Aminah (atau Ratu Aminah) mengambil peran sentral dalam mengelola hubungan eksternal dan diplomasi regional kerajaan. Tokoh pelopor pembentuk Kerajaan Banggai modern, yaitu Adicokro (yang populer dikenal sebagai Adi Soko atau Mbumbu Doi Jawa), datang ke wilayah ini untuk memperdalam ajaran Islam dan melakukan ekspedisi penyatuan wilayah. Dalam perkembangannya, Adi Soko menikahi putri dari lingkungan penguasa Motindok, yang dalam beberapa narasi adat diidentifikasi sebagai Sitti Aminah atau Nuru Sapa (atau Nur Sapa), putri dari Raja Ali Asine.

Pernikahan politik ini melahirkan seorang putra bernama Abu Kasim. Untuk merayakan kelahiran cucunya (atau saat keberangkatan Adi Soko menuju Banggai), Raja Ali Asine menghadiahkan sepasang burung Maleo (Macrocephalon maleo) kepada Adi Soko dan Abu Kasim sebagai tanda persaudaraan dan ikatan sakral antara Batui dan Banggai. Burung tersebut kemudian dibawa oleh Adi Soko ke tanah Jawa, namun karena karakteristik ekologis Jawa yang tidak cocok, burung-burung tersebut tidak dapat berkembang biak.

Setelah Adi Soko memutuskan menetap di Jawa, Abu Kasim menyusul ayahnya untuk berkonsultasi mengenai takhta Banggai. Adi Soko menyarankan agar takhta diserahkan kepada putranya yang lain dari istri yang berbeda, yaitu Maulana Prince Mandapar. Sebelum Abu Kasim kembali, Adi Soko menitip kembali sepasang burung Maleo tersebut agar dibawa pulang. Setibanya di Banggai, upaya pengembangbiakan juga gagal, sehingga Abu Kasim membawa burung-burung tersebut kembali ke asalnya di Batui, khususnya kawasan berpasir hangat di Bakiriang yang sangat ideal bagi kelangsungan hidup dan penetasan telur Maleo. Abu Kasim kemudian menitipkan pesan adat (amanah) bahwa telur pertama (Tumpe) yang dihasilkan setiap tahun harus diantarkan sebagai persembahan ke Keraton Banggai.

Garis Keturunan Ali Asine

Raja Ali Asine memimpin konsolidasi wilayah pesisir dan muara sungai yang menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan kerajaan. Posisi geopolitik Ali Asine sangat penting karena wilayah kekuasaannya berhadapan langsung dengan jalur pelayaran regional. Di antara ketiga bersaudara tersebut, garis keturunan Ali Asine memiliki signifikansi politik jangka panjang bagi masa depan Batui. Keturunan dari Ali Asine menjadi instrumen utama dalam transisi kekuasaan ketika kerajaan ini kehilangan kedaulatan penuhnya dan melebur ke dalam konfederasi Kerajaan Banggai.1

Aneksasi oleh Banggai dan Restrukturisasi Politik

Seiring dengan menguatnya kekuasaan Kerajaan Banggai di bawah kepemimpinan figur legendaris seperti Raja Mandapar, wilayah-wilayah di daratan utama Sulawesi (mainland), termasuk Batui, mulai diintegrasikan ke dalam wilayah kekuasaan Banggai. Integrasi ini terjadi setelah Adicokro (mumbu doi Jawa) melakukan ekspedisi perluasan kekuasaan ke daratan Sulawesi Timur sebagai kelanjutan dari penaklukan Kerajaan Tompotika.1 Kerajaan Motindok-Bola-Lowa yang sebelumnya berdaulat secara otonom akhirnya melebur ke dalam orbit politik Banggai.1

Meskipun demikian, Kerajaan Banggai menerapkan strategi kontrol tidak langsung (indirect rule) yang akomodatif terhadap elit lokal. Penguasa Banggai tidak menghapus struktur dinasti lokal secara total, melainkan melakukan restrukturisasi birokrasi dengan memanfaatkan legitimasi keturunan penguasa terdahulu.1

 

Aspek Strukturasi

Era Kerajaan Mandiri (Motindok-Bola-Lowa)

Era Hegemoni Kerajaan Banggai (Vasal Batui)

Puncak Otoritas Wilayah

Kepemimpinan Bersama Tiga Bersaudara (Ali Asine, Aminah, Raja Lohat)

Bosa'nyo Batui (Cucu Ali Asine sebagai pemegang pertama) 1

Pusat Pemerintahan

Kawasan Sungai Motindok, Bola (Bukit Lokon) & Lowa (Kuop/Kampung Manau) 1

Kediaman Resmi Bosa'nyo dan Bonua Dakanyo Batui 7

Administrasi Tingkat Desa

Kepala Suku / Pimpinan Adat Lokal 1

Dakanyo / Dokanyo (Orang yang dibesarkan di tingkat desa) 4

Bahasa Resmi dan Ritual

Bahasa Baha (Bahasa migran Ampana) 1

Bahasa Saluan (Bahasa komunikasi ritual adat) 3

Kedaulatan Politik

Berdaulat Penuh (Otonom) 2

Vasal Adat (Batomundoan) di bawah Raja Banggai (Tomundu) 3

Transformasi Birokrasi Adat: Hubungan Bosa'nyo dan Dakanyo

Melalui proses akomodasi politik tersebut, cucu dari Ali Asine diangkat menjadi Bosa'nyo Batui pertama.1 Berdasarkan catatan sejarawan H.S. Padeatu, S.H., ketika Adicokro (mumbu doi Jawa) melakukan ekspedisi penaklukan di Motindok, ia menikahi putri dari Ali Asine (Nuru Sapa).1 Sementara itu, putra dari Ali Asine yang bernama Sasong Beluwangi memiliki seorang putra bernama Ama.1 Ama inilah—yang merupakan cucu kandung dari Ali Asine—yang secara resmi diangkat oleh Adicokro menjadi Bosa'nyo Batui pertama.1

Bosa'nyo (atau Bosanyo) merupakan jabatan kepala adat tertinggi di wilayah Batui yang berfungsi sebagai wakil resmi atau gubernur dari Raja Banggai (Tomundu) di daratan utama.3 Penunjukan Ama (cucu Ali Asine) ini merupakan langkah strategis untuk meredam potensi pemberontakan dari pengikut setia dinasti lama, sekaligus mentransfer loyalitas sosioreligius masyarakat Batui kepada takhta Banggai.1

Untuk menjalankan pemerintahan harian di tingkat akar rumput, struktur di bawah Bosa'nyo diperkuat dengan pengangkatan Dakanyo (atau Dokanyo), yang secara harfiah berarti "orang yang dibesarkan" atau dihormati dalam suatu wilayah kelurahan atau desa.4 Dakanyo bertindak sebagai kepala komunitas lokal yang mengorganisir masyarakat adat, mengumpulkan upeti, dan menyelesaikan sengketa sipil berdasarkan hukum adat setempat.3




                
                            |
                    (Mandat Customary)
                            v
      <-- Garis Keturunan Ali Asine (Ama, Cucu Ali Asine)
                            |
                    (Koordinasi Lokal)
                            v
        <-- Pemimpin Komunitas Tingkat Desa/Kelurahan

Upacara Adat Molabot Tumpe: Transformasi Diplomasi Menjadi Ritual Tributer

Salah satu bentuk pengakuan kedaulatan Banggai atas wilayah Batui yang paling spektakuler dan masih terjaga hingga saat ini adalah upacara adat Molabot Tumpe (juga dikenal sebagai Mombowa Tumpe atau Malabot Tumbe). Ritual tahunan ini pada dasarnya merupakan reaktualisasi dari kontrak politik masa lalu antara Kerajaan Motindok-Bola-Lowa dengan Kerajaan Banggai.1

Secara historis, tradisi ini bersumber dari peristiwa pengembalian sepasang burung Maleo oleh Abu Kasim kepada keluarganya di Kerajaan Motindok di Batui agar dapat bertelur secara alami di habitat aslinya. Sebagai imbalan atas hak pemanfaatan ekologis dan perlindungan adat tersebut, masyarakat Batui diwajibkan menghantarkan telur pertama (Tumpe) yang dihasilkan burung Maleo setiap tahun ke Keraton Banggai. Kewajiban ini dilembagakan sebagai upeti adat tahunan yang menandakan kepatuhan abadi masyarakat Batui kepada keturunan Raja Banggai.7

Strukturasi Prosesi dan Jalur Pelayaran Tumpe

Prosesi penghantaran telur Maleo pertama ini dirancang dengan tingkat ketelitian ritual yang sangat tinggi, melibatkan pembagian peran yang tegas antara perangkat adat Bosa'nyo, Dakanyo, dan para pemangku ritual lainnya.3

 

Tahap Ritual

Aktivitas Utama

Peran Perangkat Adat

Signifikansi Simbolis

1. Pengumpulan

Telur Maleo pertama dikumpulkan dari masyarakat adat di empat kelurahan Batui (Batui, Tolando, Balantang, Bugis).3

Diorganisir oleh para Dakanyo di tingkat basis.3

Menggambarkan persatuan rakyat dan hasil panen bumi yang diberkahi.3

2. Penyucian & Doa

Telur dikumpulkan di rumah Dakanyo, didoakan dalam bahasa Saluan kepada Tumpu Ala Ta Ala (Tuhan Yang Maha Esa).3

Dipimpin oleh Dakanyo beserta pemuka adat dan agama.3

Memohon restu leluhur di berbagai kusali (situs kerajaan kecil di Batui).8

3. Pengemasan

Telur dibawa ke rumah Bosa'nyo, dibungkus rapi menggunakan daun lontar, dan diikat dalam formasi khusus.3

Dilaksanakan di bawah pengawasan langsung Bosa'nyo Batui.3

Perlambang kesuburan, kelimpahan, serta kehormatan bagi pihak penerima.9

4. Pemberangkatan

Telur diarak oleh rombongan berpakaian adat merah menuju perahu di Sungai Batui untuk berlayar menuju Pulau Peling, Banggai.3

Dikawal oleh 3 orang ombuwa (pembawa telur) dan 4 orang pendayung.3

Pelayaran suci melintasi laut sebagai manifestasi fisik penghubung pesisir-kepulauan.9

5. Transisi & Penyucian

Perahu singgah di Tanjung Merah, Desa Mansalean, Pulau Labobo. Daun lontar diganti dengan daun kombuno baru di rumah adat Kusali Tolo.3

Dilakukan oleh rombongan pengantar dari Batui.3

Pembungkus lama dihanyutkan ke laut sebagai penanda navigasi ritual bagi Keraton Banggai.3

6. Penyerahan Keraton

Perahu berputar tiga kali di depan Kampung Jin (Tinakin) sebelum merapat. Telur diserahkan secara hening tanpa kata ke Keraton.3

Diterima oleh Jogugu (Perdana Menteri) atas perintah Tomundu (Raja Banggai).3

Puncak kepatuhan politik dan pembaharuan ikatan spiritual tahunan.3

Sinkretisme Budaya dan Rekonsiliasi Kontemporer

Integrasi Kerajaan Motindok-Bola-Lowa ke dalam struktur administrasi tradisi Banggai menghasilkan bentuk sinkretisme budaya yang unik di wilayah Batui. Meskipun identitas kedaulatan politik Motindok-Bola-Lowa sebagai kerajaan mandiri telah lama hilang dalam catatan sejarah pasca-kolonial, esensi dari eksistensinya tetap hidup dalam sistem kosmologi masyarakat Batui.

Ritual Molabot Tumpe membuktikan bahwa penaklukan politik tidak selalu berujung pada pemusnahan kebudayaan lokal. Sebaliknya, melalui restrukturisasi jabatan kepemimpinan—dengan menempatkan Ama (cucu Ali Asine) sebagai Bosa'nyo Batui pertama—terjadi proses rekonsiliasi historis yang harmonis.1 Kebudayaan agraris-hutan pedalaman yang diwakili oleh memori Raja Lohat di Gunung Lowa, serta jalur maritim yang dirintis oleh Ali Asine dan Sitti Aminah dari Ampana, disintesiskan secara sempurna ke dalam tatanan adat Batomundoan Banggai. Upacara ini bukan sekadar pertunjukan pariwisata modern, melainkan dokumen hidup yang mencatat proses integrasi politik, negosiasi identitas linguistik, dan pelestarian ekologis satwa endemik Sulawesi Tengah yang terus dipertahankan melintasi batas-batas abad.3

Karya yang dikutip

  1. Buku Sejarah Kabupaten Banggai Jilid I HS Padeatu.pdf

  2. Sejarah Banggai Versi 2 - Komunitas Lipu Pau Basal, diakses Mei 19, 2026, https://kerajaanbanggai.wordpress.com/2018/06/06/sejarah-banggai-versi-2/

  3. Upacara Tumpe: Jejak Tradisi yang Terus Hidup di Era Digital - Wikibuku bahasa Indonesia, diakses Mei 19, 2026, https://id.wikibooks.org/wiki/Upacara_Tumpe:_Jejak_Tradisi_yang_Terus_Hidup_di_Era_Digital

  4. Eksistensi Upacara Adat Molabot Tumpe dan ... - Scanned Image, diakses Mei 19, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/31205/1/EKSISTENSI%20UPACARA%20ADAT%20MOLABOT%20TUMPE%20TERHADAP%20KELESTARIAN%20SATWA.pdf

  5. (AF6233) MOMPOSA'ANGU TANGA SUNGAI MOTINDOK, KAYOWA, Kec. Batui, Kab. Banggai Prov. Sulawesi Tengah - Verval Yayasan, diakses Mei 19, 2026, https://vervalyayasan.data.kemdikbud.go.id/index.php/chome/profil?yayasan_id=77C15953-8F0B-49D0-9DDD-C21A01204409

  6. tk motindok jaya kayowa - Bonua Data, diakses Mei 19, 2026, https://www.bonuadata.id/homepage/detail.php?npsn=69768334

  7. Prosesi Adat Ritual Mombowa Tumpe Dari Batui Ke Kabupaten Banggai Laut Sukses Dilaksanakan - Kabar Luwuk, diakses Mei 19, 2026, https://kabarluwuk.com/prosesi-adat-ritual-mombowa-tumpe-dari-batui-ke-kabupaten-banggai-laut-sukses-dilaksanakan/

  8. Rute Pengantaran Tumbe dan Cerita yang Hilang - Media Alkhairaat, diakses Mei 19, 2026, https://media.alkhairaat.id/rute-pengantaran-tumbe-dan-cerita-yang-hilang/?all=1#!

  9. LAMPIRAN - Universitas Pendidikan Ganesha, diakses Mei 19, 2026, https://repo.undiksha.ac.id/22104/8/2015051097-LAMPIRAN.pdf

 

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: