BEDAH BUKU : Sejarah Kabupaten Banggai Jilid I
17 May 2026 | Oleh: Rastono Sumardi
Judul: Sejarah Kabupaten Banggai Jilid I
Penulis: H.S. Padeatu, SH
Tahun Terbit: 1997
Bahasa: Indonesia
Topik Utama: Sejarah awal wilayah Banggai (Darat dan Kepulauan), masa prasejarah, kerajaan-kerajaan tua, asal-usul bahasa dan budaya.
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Penulisan
-
Penulis prihatin karena sejarah Banggai banyak ditulis oleh bangsa asing (Belanda), bukan oleh anak bangsa sendiri.
-
Buku ini lahir dari wawancara dengan tokoh adat (Djakaria Uda’a, mantan Jogugu Kerajaan Banggai) dan studi literatur berbahasa Belanda.
-
Tujuan: menyajikan sejarah Banggai secara populer namun dapat dipertanggungjawabkan.
2. Alasan Pemilihan Judul
-
“Sejarah Banggai dalam lintasan Sejarah Indonesia” → menegaskan bahwa sejarah lokal ini adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah nasional.
-
Nama “Banggai” tetap dipertahankan sebagai identitas daerah meskipun ibukota administratif berada di Luwuk.
B. GAMBARAN UMUM WILAYAH
1. Letak dan Batas
-
Terdiri dari Banggai Darat (Vaste-wal) dan Banggai Kepulauan (Banggai Archipel).
-
Batas: Utara (Teluk Tomini), Selatan (Pulau Teong), Barat (Tanjung Api – sungai Balingara), Timur (Kepulauan Sula).
-
Masalah batas barat dengan Kabupaten Poso masih menjadi catatan historis yang belum tuntas.
2. Potensi Daerah
-
Gunung: Tompotika, Monchung-Babalean, Julutumpu, Lipubabasal, Tokolong, Tomusi.
-
Dataran subur: Toili, Batui, Lamala, Pagimana, Bunta.
-
Pulau: Peling, Banggai, Labobo, Bangkurung, Bokan, Timpaus, Sonit, dll.
-
Sungai dan danau: potensi besar namun belum terpetakan seluruhnya.
C. BAHASA DAERAH
1. Tiga Bahasa Asli Banggai
| Bahasa | Wilayah | Kata Sangkal |
|---|---|---|
| Loinang-Saluan | Banggai Darat (Luwuk, Pagimana, Bunta, Kintom, Batui, Toili) | madi |
| Balantak | Balantak, Lamala | ko-sian |
| Banggai | Seluruh Banggai Kepulauan | aki |
2. Hubungan Bahasa
-
Bahasa Loinang-Saluan berasal dari rumpun Gorontalo melalui Kepulauan Togean.
-
Bahasa Banggai memiliki hubungan dengan bahasa Sula, Makian Timur, dan Bacan (kelompok Halmahera Selatan).
D. MASA PRASEJARAH DI BANGGAI
1. Penduduk Awal
-
Bangsa Negrito dan Wedda sudah mendiami Banggai sejak zaman Paleolitikum.
-
Bukti: ciri fisik masyarakat Peling Barat (Sea-sea) yang berkulit hitam, rambut keriting/jenggot.
2. Kebudayaan Batu Kuno
-
Ditemukan kuburan batu di:
-
Tatabau (Buko)
-
Kindandal (Liang)
-
Bebengketan (Bongganan, Tinangkung)
-
-
Ditemukan juga batu-mesea (batu datar) di Lumbi-lumbia, tempat legenda berlabuhnya raja Buko.
Kesimpulan: Banggai sudah berpenghuni sejak ribuan tahun sebelum Masehi, dengan budaya megalitik seperti di Nias dan Sumba.
E. KERAJAAN-KERAJAAN TUA DI BANGGAI DARAT
1. Kerajaan Tompotika
-
Letak: di lereng Gunung Tompotika (Pagimana).
-
Pendiri: La Urempessi dan We Padauleng dari Luwu, Sulawesi Selatan.
-
Berdiri sekitar abad VIII, runtuh akhir abad XVI setelah diserang Ternate, Banggai, Tobelo, Gorontalo.
-
Raja terakhir: La Logani (gugur dalam perang).
-
Saudari La Logani: Mapaang → pindah ke Lampa (Banggai).
-
Keturunan Mapaang kini mendiami Masama (Lamala), desa Tangeban dan Taugi.
2. Kerajaan Motindok-Bola-Lowa
-
Wilayah: sekitar Batui.
-
Pendiri dari Ampana (berbahasa baha).
-
Pemimpin: Ali Asine, Aminah, Lohat (tiga bersaudara).
-
Kemudian dikuasai Banggai, cucu Ali Asine menjadi bosa’nyo Batui pertama.
3. Kerajaan Gori-Gori
-
Wilayah: Sinorang (Sinohoan), selatan Batui.
-
Penduduk dari Mori (Poso), berbahasa ido (varian Bare’e).
-
Disebut juga Pu-Umbana (Pombana).
F. KERAJAAN-KERAJAAN TUA DI PULAU PELING
1. Kerajaan Buko (tertua di Banggai Kepulauan)
-
Nama Buko berasal dari buuk (rambut) dan latoan-buko (tempat gulung rambut).
-
Raja terkenal: Dalu (kepala gundul), Sulepo (punya keramat di Pasuruan, Jawa Timur).
-
Buko dianggap “kakak” oleh Banggai → basalo Buko tidak wajib membuka topi di hadapan raja Banggai.
-
Batu-mesea sebagai tempat legenda dan labuhan raja.
2. Kerajaan Bulagi
-
Nama dari bulae (“bagaimana kita bagi harta”).
-
Raja pertama: Tumba Pande (tahun 1019 M, menurut catatan lokal).
-
Wilayah Bulagi dulu sangat luas, mencakup banyak desa di Buko, Liang, bahkan Bangkurung dan Banggai.
3. Kerajaan Kecil: Peling, Salaup, Kadupang, Liputomundo, Sisipan
-
Peling: pecahan Bulagi, kemudian nama pulau besar diberikan oleh Sultan Ternate.
-
Kadupang: terkenal dengan panglima perang “Mata-timbaling” (mata sebelah-menyebelah).
-
Liputomundo: rajanya adalah kakak raja Banggai.
-
Sisipan: hancur total dalam perang saudara.
4. Kerajaan Bongganan (Peling Timur)
-
Pusat di Benteng Bebengketan (dekat Salakan).
-
Wilayah meliputi Tinangkung, Totikum, Paisu-Uluno.
-
Runtuh karena serangan gabungan Jawa, Ternate, Gowa.
-
Panglima terkenal: Sendeng (Mata-timbaling) → dibunuh dengan tipu muslihat.
-
Tinangkung berarti “dipikul” → basalo Tinangkung dipikul ke istana sebagai tanda kehormatan.
G. KEUNIKAN DAN NILAI PENTING BUKU
1. Kelangkaan Sumber
-
Buku ini merupakan salah satu dari sedikit karya sejarah Banggai dalam bahasa Indonesia yang ditulis oleh putra daerah.
-
Mengutip langsung dokumen Belanda seperti Banggaische Adatrecht (Dormeier), De To Loinang (Kruyt), dll.
2. Pendekatan Interdisipliner
-
Menggabungkan sejarah, antropologi, linguistik, dan arkeologi.
-
Menunjukkan hubungan Banggai dengan Luwu, Ternate, Gowa, Jawa, dan Gorontalo.
3. Relevansi Masa Kini
-
Menjelaskan asal-usul nama tempat (Luwuk, Buko, Bulagi, Tinangkung, dll).
-
Mengungkap batas historis yang kini menjadi masalah tapal batas administratif.
-
Mengingatkan pentingnya melestarikan peninggalan megalitik dan benteng tua.
H. KELEMAHAN BUKU (UNTUK DISKUSI KRITIS)
-
Struktur kurang sistematis – kadang melompat antara cerita lisan, analisis penulis, dan kutipan asing.
-
Sumber lisan tidak selalu diverifikasi – misalnya tahun 1019 untuk Tumba Pande tanpa bukti arkeologis yang kuat.
-
Penggunaan istilah asing (Belanda) tanpa terjemahan konsisten – menyulitkan pembaca awam.
-
Tidak ada peta lengkap – meskipun penulis menyebut peta, tidak disertakan dalam file digital ini.
-
Volume II tidak tersedia – padahal janji akan membahas kerajaan Banggai secara utuh.
I. PERTANYAAN DISKUSI
-
Mengapa penulis sangat menekankan bahwa Buko adalah “kakak” dan Banggai adalah “adik”? Apa implikasinya bagi sejarah hubungan antarkerajaan?
-
Bagaimana pengaruh Kerajaan Luwu dan Ternate terhadap pembentukan kerajaan-kerajaan di Banggai?
-
Apa makna penemuan kuburan batu dan batu-mesea bagi pemahaman kita tentang masa prasejarah di Sulawesi Tengah?
-
Apakah menurut Anda batas barat Banggai dengan Poso (sungai Balingara) perlu dikaji ulang secara historis?
-
Mengapa penulis mengkhawatirkan punahnya bahasa daerah dalam 15–20 tahun? Apakah itu terjadi sekarang (2026)?
J. KESIMPULAN BEDAH BUKU
“Sejarah Kabupaten Banggai Jilid I” adalah karya penting dan langka yang berhasil merangkum sejarah awal Banggai dari masa prasejarah hingga runtuhnya kerajaan-kerajaan tua. Meskipun memiliki kelemahan dalam sistematika dan verifikasi sumber, buku ini tetap menjadi rujukan utama bagi siapa pun yang ingin memahami akar sejarah, bahasa, dan budaya masyarakat Banggai. Buku ini juga membuka mata bahwa sejarah lokal Indonesia tidak boleh hanya ditulis oleh bangsa asing, tetapi harus digali dan ditulis oleh anak bangsa sendiri.