Hujan Air Mata di Negeri Sendiri

17 May 2026 | Oleh: Rastono Sumardi

Hujan Air Mata di Negeri Sendiri

Di negeri orang,
hujan emas jatuh dari langit investasi;
orang asing kenyang meneguk manisnya,
bahkan debu di jalanan pun berkilau jadi rezeki.


Di negeri sendiri,
rakyat menadah hujan air mata;
tangan kapalan hanya jadi buruh kasar,
menggenggam upah—sekadar cukup membeli lapar.


Investor asing menanam besi dan beton,
menggali bumi sampai akar;
sementara pemilik sah tanah ini
hanya menonton dari balik pagar.


Di meja rapat ber-AC,
orang asing tersenyum puas bersama pejabat kita;
kontrak ditandatangani dengan tinta manis—
yang artinya, rakyat lagi-lagi ditulis sebagai korban.


Hujan emas memang deras,
tapi bukan untuk kita—
kita hanya kebagian lumpur,
bekas tapak sepatu tuan besar.


Oh, negeri,
kau rela jadi penyewa di rumah sendiri;

sementara tamu asing duduk di singgasana,
dan kita dipaksa percaya

bahwa ini semua demi kemajuan.

 

Luwuk,  30 Agustus 2025

Dengan pembacaan Puisinya, Klik di bawah ini:

Hujan Air Mata di Negeri Sendiri - Banggai Kreatif

Ditulis oleh:

Rastono Sumardi

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: