DI UJUNG DOA KAMI

13 May 2026 | Oleh: Akhlish Lubab

DI UJUNG DOA KAMI

Momen Kelulusan SMA Ali Maksum Krapyak Yogyakarta

Di aula yang dipenuhi gema takbir dan haru,
kami berdiri dengan jas hitam yang rapi,
selempang merah menjuntai di dada,
membawa nama,
membawa cerita,
membawa air mata yang diam-diam pernah jatuh dalam sujud malam.

Hari ini bukan sekadar kelulusan.
Ini adalah jejak panjang
dari kantuk yang dikalahkan hafalan,
dari rindu rumah yang dipeluk kesabaran,
dari kitab-kitab yang dibaca
hingga mata hampir rebah oleh waktu subuh.

Kami pernah menjadi anak-anak
yang datang dengan langkah canggung,
membawa koper kecil dan doa ibu
di gerbang Krapyak yang teduh.
Lalu pesantren mengajari kami
bahwa hidup bukan hanya tentang nilai,
tetapi tentang adab
yang tetap tegak
meski dunia berubah arah.

Di kelas-kelas sederhana itu
kami belajar menghitung masa depan,
namun di musala dan asrama
kami belajar menghitung syukur.

Ada guru-guru
yang tidak hanya mengajar dengan suara,
tetapi juga dengan keteladanan.
Yang diamnya adalah nasihat,
yang lelahnya adalah cinta
agar kami tumbuh menjadi manusia
yang tidak kehilangan akhlak di tengah ilmu.

Hari ini kami menerima sertifikat itu
dengan tangan bergetar.
Bukan karena kertasnya,
tetapi karena kami tahu
betapa banyak doa yang tersimpan di baliknya.

Doa ayah
yang mungkin diam-diam menahan letih demi biaya sekolah.
Doa ibu
yang setiap selesai salat menyebut nama kami
lebih panjang daripada dirinya sendiri.

Dan di antara deretan sahabat berseragam hitam itu,
ada tawa yang sebentar lagi menjadi kenangan.
Ada candaan lorong asrama,
ada diskusi larut malam,
ada hukuman kecil yang kini terasa lucu,
ada persahabatan
yang kelak akan kami rindukan
saat dunia mulai sibuk memisahkan langkah.

Wahai waktu,
tolong berjalanlah sedikit lebih lambat hari ini.
Biarkan kami menikmati detik-detik terakhir
menjadi santri
di bawah langit Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.

Karena esok,
kami akan pergi membawa nama baik almamater,
menjadi mahasiswa, pekerja, pengabdi masyarakat,
atau mungkin pengembara ilmu
di kota-kota yang belum kami kenal.

Namun ke mana pun kaki melangkah,
kami ingin tetap menjadi anak-anak pesantren
yang tahu cara menundukkan hati,
yang tidak malu mencium tangan guru,
dan tidak lupa pulang
kepada doa-doa lama yang membesarkan kami.

Hari ini kami lulus.
Tapi sesungguhnya,
ini baru awal perjalanan panjang
untuk membuktikan
bahwa ilmu tanpa akhlak hanyalah cahaya tanpa arah.

Dan di bawah langit Yogyakarta yang teduh,
kami mengucap pelan dengan mata yang basah:

“Terima kasih,
SMA Ali Maksum Krapyak.
Engkau bukan hanya sekolah,
tetapi rumah
yang mengajari kami menjadi manusia.”

Kryapak, 10 Mei 2026
 
Dengarkan Pembacaan Puisinya, Klik di bawah ini:
 
 

Ditulis oleh:

Akhlish Lubab

Kontributor Banggai Kreatif

Bagikan Artikel Ini: