Di timur semenanjung
tempat laut memeluk tanjung dengan ombak yang sabar,
lahirlah sebuah negeri
yang dibangun bukan hanya oleh kuasa,
tetapi oleh musyawarah
dan hati yang belajar berbagi arah.
Mandapar berdiri di antara angin dan garam laut,
menjadikan takhta bukan singgasana kesombongan,
melainkan tempat mendengar suara rakyat
yang datang dari gunung, pesisir,
hingga pulau-pulau yang jauh dipeluk cakrawala.
Empat menteri duduk melingkar
di bawah cahaya pelita kerajaan,
membagi amanah seperti membagi air
agar tak ada tanah yang kering
oleh kerakusan kekuasaan.
Sejarah pun berjalan
seperti perahu tua yang tak pernah lelah
mengarungi ombak zaman.
Hingga suatu hari
angin kemerdekaan datang mengetuk gerbang Banggai.
Merah Putih berkibar
di dada mereka yang percaya
bahwa bangsa lebih abadi
daripada mahkota dan gelar kebangsawanan.
Haji Syukuran Aminuddin Amir
menatap kerajaannya dengan mata yang teduh.
Mahkota itu disimpannya perlahan
ke dalam peti kenangan,
lalu diserahkannya negeri ini
kepada masa depan bernama Indonesia.
Luwuk menjadi saksi
ketika sejarah mengganti pakaiannya:
kerajaan berubah menjadi kabupaten,
namun harga diri rakyat
tetap berdiri di tempat yang sama.
Di tanah Babasalan,
Saluan, Balantak, Banggai, dan Andio
mengikat perbedaan menjadi persaudaraan.
Mereka belajar
bahwa darah boleh berbeda warna adat,
tetapi tanah air tetap satu pelukan.
Orang-orang gunung turun membawa hasil bumi,
orang pesisir datang membawa garam dan laut,
lalu bersama-sama
membangun rumah bernama Banggai
dengan gotong royong warisan leluhur.
Di pekarangan sederhana
tangan-tangan rakyat menanam harapan.
Bibit tumbuh bersama doa,
dan kemiskinan perlahan dilawan
oleh keyakinan
bahwa tanah sendiri tak boleh kehilangan kehidupan.
Di hutan Bakiriang yang masih basah oleh embun,
Maleo mengepakkan sayap purbanya.
Burung itu bukan sekadar satwa,
melainkan pesan leluhur
agar manusia tetap menghormati alam.
Malabot Tumbe kembali digelar.
Telur pertama dijemput penuh penghormatan,
dibawa dari Batui menuju Keraton
dengan langkah-langkah adat yang sakral.
Di sana, manusia belajar
bahwa menjaga tradisi
berarti menjaga masa depan.
Kini zaman berubah.
Api biru menyala di Teluk Tomini,
menerangi malam dengan cahaya industri.
Pipa-pipa baja membelah tanah,
membawa gas bumi
menjadi denyut ekonomi baru.
Banggai terus melangkah.
Jalan-jalan dibuka menuju desa terpencil,
bandara diperluas mendekatkan langit,
dan anak-anak di pelosok
mulai berani bermimpi lebih tinggi
daripada bukit tempat mereka dilahirkan.
Lipu Babasalan tetap dijaga
oleh doa para tetua,
oleh kerja keras para petani,
oleh langkah nelayan yang pulang membawa harapan,
dan oleh generasi muda
yang menanam masa depan
Luwuk, 13 Mei 2026
Dengarkan Musikalisasinya, Klik di bawah ini :
LIPU BABASALAN - Banggai Kreatif