(Sebuah Puisi Esai)
I
Di timur semenanjung,
di mana laut memeluk tanjung dengan sunyi yang panjang,
Mandapar berdiri di atas takhta
bukan sebagai penguasa yang menimbun kuasa,
melainkan penjaga musyawarah
yang membagi arah negeri kepada banyak suara.
Empat menteri duduk melingkar,
membentangkan peta kekuasaan tanpa kerakusan.
Dari Luwuk hingga Pulau Peling,
otoritas tidak bertumpu pada satu tangan,
tetapi tumbuh seperti akar bakau
yang saling menopang dalam gelombang zaman. (1)
II
Tahun-tahun bergerak menuju kemerdekaan.
Angin republik datang mengetuk gerbang kerajaan.
Haji Syukuran Aminuddin Amir
menatap mahkota yang diwariskan leluhur
lalu menyimpannya perlahan
ke dalam kotak sejarah dan pengorbanan.
Ia memilih Merah Putih
daripada singgasana yang bisa dipertahankan.
Luwuk menjadi saksi
ketika Bidin menerima mandat pemerintahan,
dan sebuah kerajaan
berubah menjadi kabupaten yang berpijak pada cita bangsa. (2)
III
Saluan, Balantak, Banggai, dan Andio—
empat nama,
empat darah,
namun satu napas yang dijaga bersama.
Dalam falsafah Babasalan,
dendam tak diwariskan,
sekat tak dipelihara.
Orang-orang gunung turun ke pesisir,
penjaga benteng membuka tangan persaudaraan,
lalu bersama-sama membangun rumah bernama Banggai.
Kini pekarangan hijau tumbuh di tanah pusaka.
Satu juta harapan ditanam
di halaman-halaman sederhana milik rakyat.
Di antara bibit dan doa-doa kecil,
kemiskinan perlahan dilawan
dengan kerja yang berakar pada tanah sendiri. (3)
IV
Dengarlah kepakan sayap Maleo
di hutan Bakiriang yang masih menyimpan embun purba.
Telur pertamanya bukan sekadar kehidupan,
tetapi janji yang diwariskan leluhur
agar manusia tidak serakah kepada alam.
Dari Batui menuju Keraton,
orang-orang membawa ritual dan penghormatan.
Malabot Tumbe bukan hanya seremoni,
melainkan simpul persaudaraan
antara adat, tanah, dan masa depan.
Di sana,
kearifan lokal menjaga hutan tetap bernapas,
agar Maleo tidak hilang
ditelan deru mesin dan lupa manusia. (4)
V
Kini api biru menyala di Teluk Tomini.
Malam-malam diterangi cahaya industri,
sementara pipa-pipa baja
menjalar seperti urat baru bagi ekonomi daerah.
DSLNG berdiri megah,
membawa Banggai memasuki zaman energi dan investasi.
Sawah dan kebun
bertemu dengan kilang dan dermaga.
Wajah daerah berubah perlahan
dari agraris menuju industri.
Namun Luwuk tetap kota air,
tempat hujan dan kenangan jatuh bersamaan.
Di balik beton dan kemajuan,
identitas lama masih mengalir
seperti sungai yang tak kehilangan hulunya. (5)
VI
Banggai terus melangkah
menuju tahun-tahun yang penuh janji.
Jalan dibuka menembus perbukitan,
bandara diperluas menyambut langit yang lebih dekat,
dan desa-desa terpencil
perlahan keluar dari sunyi keterisolasian.
Di bawah naungan Lipu Babasalan,
orang-orang menjaga warisan
dengan doa dan kerja nyata.
Karena kemajuan bukan sekadar gedung dan angka,
tetapi kemampuan menjaga akar
saat ranting-ranting menjulang ke masa depan.
Dan Banggai,
dengan segala sejarah dan harapannya,
tetap berdiri sebagai rumah bersama—
tempat adat, pembangunan, dan persaudaraan
hidup berdampingan
di bawah langit yang sama. (6)
Catatan Kaki
(1) Kerajaan Banggai pada masa Mandapar (1600–1630) dikenal menerapkan sistem “Komisi Empat”, yakni pembagian otoritas pemerintahan antara raja dan para menteri di wilayah strategis seperti Luwuk, Banggai, dan Salakan.
(2) Raja terakhir Banggai, Haji Syukuran Aminuddin Amir, menyerahkan kekuasaan kerajaan kepada pemerintah Republik Indonesia pada 12 Desember 1959. Penyerahan itu menandai perubahan sistem kerajaan menjadi pemerintahan kabupaten dengan Luwuk sebagai ibu kota.
(3) Identitas sosial Banggai dibangun atas persatuan etnis Banggai, Balantak, Saluan, dan Andio yang dikenal dalam filosofi Babasalan. Pemerintah daerah juga mendorong program ekonomi berbasis pekarangan dan kemandirian desa.
(4) Tradisi Malabot Tumbe adalah ritual adat tahunan penjemputan telur pertama burung Maleo dari Batui menuju Keraton Banggai sebagai simbol persaudaraan sekaligus bentuk konservasi budaya dan lingkungan.
(5) Transformasi ekonomi Banggai semakin berkembang dengan hadirnya industri gas alam cair melalui PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), yang mendorong pertumbuhan infrastruktur dan investasi kawasan Indonesia Timur.
(6) Pembangunan Banggai periode 2021–2026 menitikberatkan pada visi “Banggai Maju, Mandiri, dan Sejahtera Berbasis Kearifan Lokal” melalui pemerataan infrastruktur dan konektivitas wilayah.