Jejak Ibrahim
08 May 2026 | Oleh: Rastono Sumardi
Jejak Ibrahim
Di padang hati yang tandus dan berdebu,
aku melihat Ibrahim menanam sabar di sela batu.
Tongkat tuanya lebih tajam dari ribuan pedang,
karena ia menebas ragu demi satu nama: Tuhan.
Ka’bah berdiri bukan hanya dari susunan batu hitam,
melainkan dari air mata yang jatuh diam-diam.
Ismail adalah doa yang rela disembelih cinta,
agar manusia belajar: ikhlas lebih tinggi dari dunia.
Dan para haji berjalan mengelilingi cahaya purba,
membawa dosa seperti gurun membawa bara.
Di setiap talbiyah, langit membuka pintu rahmat—
“Labbaik…” adalah jejak Ibrahim yang belum tamat.
---
Versi Bahasa Inggris
The Footsteps of Ibrahim
In the barren desert of the soul,
I saw Ibrahim planting patience among the stones.
His aged staff was sharper than a thousand swords,
for he cut through doubt in the name of God alone.
The Kaaba was not raised merely by blackened stones,
but by silent tears falling before the Throne.
Ismail became a prayer surrendered upon love’s altar,
so mankind would learn: sincerity stands higher than the world.
And the pilgrims circle the ancient light,
carrying sins like deserts carry fire through the night.
In every Labbaik, heaven opens its endless gate—
the footsteps of Ibrahim are still echoing through fate.
Luwuk, 9 Mei 2026
dengarkan pembacaan puisinya, Klik di bawah ini:
Jejak Ibrahim - Banggai Kreatif
The Footsteps of Ibrahim - Banggai Kreatif